Minggu, 16 Oktober 2011

menggunakan alat bantu kruk


A.     Konsep Teori
Pengertian
Membantu klien berjalan dengan “menggunakan alat bantu kruk” dan “melakukan range of motion” merupakan suatu tindakan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan klien dalam mobilisasi.
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak bebas. Pergerakan atau mekanika tubuh merupakan koordinasi dari sistem muskuloskeletal dan sistem saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur tubuh, dan kesejajaran tubuh selama beraktivitas sehari-hari. Sedangkan imobilisasi adalah suatu keadaan ketika individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik.
Anatomi
Sistem tubuh yang berkoordinasi adalah sistem musculoskeletal dan sistem saraf. Sistem skeletal terdiri dari tulang, sendi, ligament, tendon, dan kartilago.
Otot atau muskul terutama berfungsi mempertahankan postur, berbentuk pendek, dan menyerupai kulit karena membungkus tendon dengan arah miring berkumpul secara tidak langsung pada tendon.
Pergerakan dan postur tubuh diatur oleh sistem saraf. Area motorik yang utama terdapat di korteks serebral, yaitu di girus prasentral atau jalur motorik. Serabut motorik turun dari girus prasentral dan bersilangan pada tingkat medulla. Sehingga serabut motorik dari jalur motorik kanan mengawali gerakan volunter dari bagian tubuh kiri, dan serabut dari jalur motorik kiri mengawali gerakan volunteer dari bagian tubuh kanan. Transmisi impuls dari sistem saraf ke sistem musculoskeletal merupakan peristiwa kimia listrik dan membutuhkan neurotransmiter.
Pada dasarnya, neurotransmitter merupakan substansi kimia seperti asetikolin yang memindahkan impuls listrik dari saraf yang bersilangan pada simpul mioneural di otot. Neurotransmitter mencapai otot dan menstimulasinya sehingga menyebabkan gerakan.
Pengaruh Fisiologi gangguan mobilisasi
Perubahan sistem respirasi yang menyebabkan komplikasi paru. Komplikasi yang sering terjadi adalah atelestatik, pneumonia hipostatik, penurunan kemampuan batuk produktif.
Perubahan sistem kardiovaskuler menyebabkan hipotensi ortostatik, peningkatan beban jantung, pembentukan trombus.
Perubahan metabolik menyebabkan terjadi nya gangguan fungsi metabolik, laju metabolik, metabolism karbohidrat, lemak dan protein, ketidakseimbangan cairan elektrolit, kalsium, gangguan pencernaan.
Perubahan pada sistem musculoskeletal, klien dapat mengalami keseimbangan nitrogen negatif dan kehilangan berat badan, penurunan masa otot, dan kelemahan akibat katabolisme jaringan.
Perubahan sistem integument yaitu terjadinya dekubitus karena jaringan tertekan.
B.        Membantu klien berjalan  menggunakan kruk
Postur jalan normal adalah kepala tegak, vertebra servikal, torakal, lumbal sejajar, pinggul dan lutut berada dalam keadaan fleksi yang sesuai, dan lengan bebas berayun bersama dengan kaki.
Kruk dapat digunakan secara temporer, seperti pada setelah kerusakan ligament di lutut. Kruk dapat digunakan permanen, seperti klien paralis ekstremitas bawah.
Kruk terbuat dari kayu atau logam. Ada dua tipe kruk, kruk lofstrand dengan pengatur ganda atau kruk lengan bawah dan kruk aksila terbuat dari kayu.
Kruk lengan bawah memiliki sebuah pegangan tangan dan pembalut logam yang pas mengelilingi lengan bawah. Pembalut logam dan pegangan tangan diatur agar sesuai dengan ketinggian klien.
Kruk aksila mempunyai garis permukaan yang seperti bantalan pada bagian atas, berada tepat di bawah aksila. Pegangan tangan berbentuk batang yang dipegang setinggi telapak tangan untuk menyokong tubuh. Kruk ini lebih umum digunakan.
Kruk harus diukur panjang yang sesuai, dan klien harus diajarkan menggunakan kruk mereka dengan aman, mencapai kestabilan gaya berjalan, naik turun tangga, dan bangkit dari duduk.
Pengukuran kruk meliputi tiga area: tinggi klien, jarak antara bantalan kruk dengan aksila, dan sudut fleksi siku. Pengukuran berikut, dengan klien berada pada posisi supine atau berdiri.
Ketika berjalan dengan kruk, berat badan klien perlu disokong oleh bahu dan lengan, bukan di bawah lengan. Siku harus ditekuk
Tujuan
·         Membantu melatih kemampuan gerak klien, melatih dan meningkatkan mobilisasi.
·         Mencapai kestabilan klien dalam berjalan.
Manfaat
Klien mampu berjalan dengan menggunakan alat bantu dan meningkatnya kemampuan mobilisasi klien.
Indikasi
·         Klien dengan nyeri yang berhubungan dengan fraktur dan/atau trauma
·         Klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan bengkak sendi
·         Klien amputasi kaki: di atas atau di bawah lutut
·         Klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhungan dengan nyeri dan kerusakan musculoskeletal
·         Klien setelah bedah artroskopis lutut
·         Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan ketidaknyamanandan imobilisasi yang diprogramkan.
Kontraindikasi
·         Klien dengan nyeri yang berhubungan dengan inflamasi, insisi, dan drainase.
·         Klien yang potensial kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan turgor kulit.
Persiapan alat
·         Menyediakan kruk yang digunakan (kruk aksila).
·         goniometer
·         Melakukan pengukuran kruk yang meliputi area tinggi klien, jarak antara bantalan kruk dengan aksila, dan sudut fleksi siku.
Pengukuran dilakukan dengan satu dari dua metode berikut, dengan klien berada pada posisi supine atau berdiri.
Pada posisi telentang-ujung kruk berada 15cm di samping tumit klien. Tempatkan ujung pita pungukur dengan lebar tiga sampai empat jari(4-5cm) dari aksila dan ukur sampai tumit klien.
Pada posisi berdiri-posisi kruk dan ujung kruk berada 14-15 cm di samping dan 14-15 cm di depan kaki klien. Dengan motede lain, siku harus direfleksikan 15 sampai 30 derajat. Fleksi siku harus diperiksa dengan goniometer.
·         Lebar bantalan kruk harus 3-4 lebar jari di bawah aksila.
·         Tempat berjalan, seperti lorong rumah sakit atau taman yang dilengkapi dengan tempat latihan untuk berjalan.


Prosedur
Gaya berjalan empat titik
1.      Kaji toleransi aktifitas, kekuatan, nyeri, koordinasi, kemampuan fungsional, dan penyakit serta cedera
2.      Menjelaskan prosedur kepada klien dan keluarga
3.      Memeriksa lingkungan untuk memastikan tidak rintangan di jalan klien
4.      Menentukan tempat istirahat klien setelah latihan
5.      Minta klien berdiri dengan posisi tripod, sebelum kruk berjalan
6.      Atur kesejajan kaki dan tubuh klien
7.      Klien memposisikan kruk pertama kali lalu memposisikan kaki yang berlawanan (mis. Kruk kanan dengan kaki kiri)
8.      Klien mengulangi urutan cari ini dengan kruk dan kaki yang lain.
Pada gaya berjalan tiga titik , berat badan di topang pada kaki yang tidak sakit dan kemudian di kedua kruk, dan urutan ini dilakukan berulang-ulang. Kaki yang sakit tidak menyentuh tanah selama berjalan ditahap awal. Secara bertahap klien mulai menyentuh, dan menopang berat badan secara penuh pada kaki yang sakit.
Gaya berjalan dua titik memerlukan sebagian penopang berat disetiap kaki. Setiap kruk digerakkan secara bersamaan dengan kaki yang berlawanan sehingga gerakan kruk sama dengan lengan.
Mengajarkan berjalan menggunakan kruk di tangga
1.      Menggunakan modifikasi gaya berjalan tiga titik
2.      Klien berdiri didasar tangga dan memindahkan berat badan ke kruk
3.      Kaki yang tidak sakit maju di antara kruk dan tangga
4.      Kemudian berat dialihkan dari kruk ke kaki yang tidak sakit
5.      Klien meluruskan kedua kruk di tangga


Evaluasi
·         Penggunaan mobilitas dan persendian klien meningkat
·         Menggunakan alat mobilisasi dengan tepat
·         Klien memperlihatkan cara yang lebih relaks
·         Klien mengatakan dan mendemontrasikan prinsip penggunaan kruk yang aman

C.      Rentang Gerak
Rentang gerak adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh: sagital, frontal, dan transversal.
Latihan rentang gerak aktif
Latihan disebut renatang gerak aktif jika pesien melakukan latihan sendiri dengan intruksi dan kemungkian dari perawat dan anggota keluarga.
Latihan rentang gerak pasif
Rentang gerak yang dilakukan perawat kepada pasien, dalam kasus ini perawat melatih sendi untuk pasien. Beberapa pasien mulai dengan latihan rentang gerak pasif dan meningkat pada latihan rentang gerak aktif.
Tujuan
Melakukan rentang gerak bertujuan untuk melatih aktivitas seluruh sendi tubuh sehingga sendi-sendi tersebut tidak kaku, dan tidak terjadi kecelakan saat tubuh di gerakan. Menjamin keadekuatan mobilisasi sendi.
Manfaat
1.      Sistem kardiovaskuler
Meningkatkan curah jantung
Memperbaiki kontraksi miokardial, menguatkan otot jantung
Menurunkan tekanan darah istirahat
Memperbaiki aliran balik vena
2.      Sistem respiratori
Meningkatkan frekuensi dan kedalam pernafasan
Meningkatkan ventilasi alveolar
Menurunkan kerja pernapasan
Meningkatkan pengembangan diafragma
3.      Sistem metabolik
Meningkatkan laju metabolisme basal
Meningkatkan penggunaan glukosa dan asam lemak
Meningkatkan pemecahan trigliserida
Meningkatkan motilitas lambung
Meningkatkan produksi panas tubuh
4.      Sistem musculoskeletal
Memperbaiki tonus otot
Meningkatkan mobilisasi sendi
Memperbaiki toleransi otot untuk latihan
5.      Toleransi aktivitas
Meningkatkan toleransi
Mengurangi kelemahan
6.      Faktor psikososial
Meningkatkan toleransi terhadap stress
Melaporkan “perasaan lebih baik”
Indikasi
·         Klien dengan kerusakan fisik yang berhubungan dengan nyeri persendian dan mobilitas
·         klien dengan kerusakan mobilitas yang berhubungan dengan nyeri dan bengkak sendi.
·         klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan edema pada persendian.
·         Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan fraktur dan cedera pada jaringan sekitar.
·         klien pasca pembedahan.
·         Klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhungan dengan prosedur bedah pada sendi yang sakit.
Kontraindikasi
·         klien dengan nyeri yang berhubungan dengan inflamsi, insisi, dan drainase.
·         klien yang potensial kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan turgor kulit.
·         klien dengan potensial terhadap perubahan perfusi: serebral dan/atau kardiopulmonar yang berhungan dengan resiko emboli lemak.
Persiapan peralatan
1.      Lokasi tempat klien melakukan latihan
2.      Tempat istirahat klien apabila telah selesai melakukan latihan.
Prosedur
1.      Kaji status kesehatan klien, kemampuan gerak sendi dan kemampuan aktifitas klien, kemampuan dan kemauan klien untuk bekerja sama dalam latihan, adanya nyeri, kekakuan, kelemahan dan bengkak, serta cek tanda-tanda vital.
2.      Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang prosedur yang akan dilakukan
3.      Jaga privasi klien
4.      Cuci tangan
5.      Lepaskan pengaman tempat tidur
6.      Lakukan latihan minimal tiga kali pada setiap sendi. Latihan dapat dilakukan dari anggota tubuh bagian atas ke anggota tubuh bagian bawah.
·         Leher
a)     Fleksi (menggerakkan dengan dagu menempel ke dada)
Ekstensi (mengembalikan kepala ke posisi tegak)
Hiperekstensi (menekukkan kepala ke belakang sejauh mungkin)
b)     Fleksi lateral (memiringkan kepala sejauh mungkin ke arah setiap bahu)
c)      Rotasi (memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkulasi)

·         Bahu
a)     Fleksi (mengangkat tangan dari posisi di samping badan sampai posisi di samping telinga)
Ekstensi (mengembalikan tangan ke samping badan)
Hiperekstensi (menggerakkan tangan ke belakang tubuh dengan siku lurus)
b)     Abduksi (mengangkat tangan kesamping kepala dengan telapak tangan menghadap membelakangi kepela)
Adduksi (menurunkan tangan ke arah samping, menyilangkan di depan tubuh sejauh mungkin)
c)      Rotasi internal (dengan siku di bengkokkan, putar lengan samping ibu jari di bawah dan mengarah ke belakang)
Rotasi eksternal (dengan siku di bengkokkan, angkat tangan sampai ibu jari menghadap ke atas)
d)     Sirkumduksi (putar tangan dalam satu lingkaran penuh)

·         Siku
Fleksi (membengkokkan siku sehingga lengan bawah bergerak mendekati bahu dan tangan sejajar dengan bahu)
Ekstensi (meluruskan tangan dan menurunkan bahu)
·         Lengan bawah
Supinasi (memutar tangan dan lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap ke atas)
Pronasi (memutar tangan dan lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap ke bawah)
·         Pergelangan tangan
a)     Fleksi (menggerakkan telapak tangan ke arah dalam lengan bawah)
Ekstensi (meluruskan kembali)
Hiperekstensi (menggerakkan punggung tangan ke arah belakang sejauh mungkin)
b)     Abduksi/ fleksi radial (membengkokkan pergelangan tangan kea rah medial)
c)      Adduksi/ fleksi lunar (membengkokkan pergelangan tangan kea rah lateral)
·         Jari
a)     Fleksi (membentuk tinju)
Ekstensi (meluruskan jari)
Hiperekstensi (membengkokkan jari ke belakang sejauh mungkin)
b)     Abduksi (merenggangkan jari)
Adduksi (merapatkan jari)
·         Ibu jari
a)     Fleksi (menggerakkan ibu jari kearah telapak tangan)
Ekstensi (meluruskan kembali ibu jari)
b)     Abduksi (menarik ibu jari ke arah lateral)
Adduksi (menarik kembali ibu jari kea rah tangan)
·         Paha
a)     Fleksi (mengangkat kaki ke arah depan)
Ekstensi (menurunkan kembali)
b)     Hiperekstensi (mengangkat kaki kea rah belakang tubuh)
c)      Abduksi (mengangkat kaki kea rah lateral tubuh)
Adduksi (menggerakkan kembali kea rah medial)
d)     Rotasi internal (memutar kaki dan paha kea rah kaki lainnya)
Rotasi eksternal (memutar kaki dan paha menjauhi kaki yang lainnya)
e)     Sirkumduksi (menggerakkan kaki membentuk putaran)
·         Lutut
Fleksi (mengangkat kaki kea rah paha belakang)
Ekstensi (menurunkan kembali ke lantai)
·         Pergelangan kaki
Fleksi dorsal (menggerakkan ke arah paha belakang)
Fleksi plantar (menggerakkan kaki sehingga jari menghadap ke bawah)
·         Telapak kaki
inversi (memutar telapak kaki ke arah medial)
eversi (memutar telapak kaki)
·         Jari kaki
a)     Fleksi (menekuk jari kebawah)
Ekstensi (meluruskan jari)
b)     Abduksi (merenggakan jari)
Adduksi (merapatkan jari)
7.      Kembalikan klien ke kondisi semula
8.      Pasang kembali pengaman tempat tidur
9.      Cek tanda-tanda vital, respon verbal, dan non verbal klien.

Evalusi
·         Klien mampu melakukan latihan rentang gerak secara adekuat pada sendi yang sakit
·         Klien mendapatkan mobilitas pada tingkat optimal.
·         Penggunaan mobilitas dan persendian meningkat.
·         Secara aktif ikut serta dalam rencana perawatan
Dokumentasi
·         Mencatat data klien
·         Mencatat tanggal dan waktu latihan
·         Mencatat semua prosedur yang dilakukan klien
·         Mencatat keaktifan klien
·         Mencatat hasil pencapaian setelah melakukan latihan

ASKEP TRAKSI


ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAKSI
Definisi Traksi :
Suatu pemasangan gaya tarikan pada bagian tubuh.
Indikasi :
  1. Pada pasien dengan fraktur dan atau dislokasi.
Tujuan :
  1. mobilisasi tulang belakang servikal
  2. reduksi dislokasi / subluksasi
  3. distraksi interforamina vertebre
  4. mengurangi rasa nyeri
  5. mengurangi deformitas
Jenis-jenis traksi :
  1. traksi lurus / langsung
  2. traksi suspensi seimbang
  3. traksi kulit/skelet
  4. traksi manual
Komplikasi
  • decubitus
  • kongesti paru / pneumonia
  • konstipasi
  • anoreksia
  • stasis & ISK
  • trombosis vena profunda
ASKEP
  1. Pengkajian
  • status neurology
  • kulit (decubitus, kerusakan jaringan kulit)
  • fungsi respirasi (frekuensi, regular/irregular)
  • fungsi gastrointestinal (konstipasi, dullness)
  • fungsi perkemihan (retensi urine, ISK)
  • fungsi cardiovaskuler (HR, TD, perfusi ke daerah traksi, akral dingin)
  • status nutrisi (anoreksia)
  • nyeri
Diagnosa Keperawatan :
  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan traksi/ imobilisasi
  2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penata laksanaan medis
  3. Resiko konstipasi berhubungan dengan imobilisasi
Intervensi :
Dx, 1 :
  • pengkajian nyeri
  • Bantu klien melakukan mobilisasi pada ekstremitas yangf tidak ditraksi
  • Anjurkan klien melakukan teknik distraksi dan relaksasi
  • Kolaborasi pemberian analgesic

DISLOKASI


DISLOKASI
Definisi :
Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi) (brunner&suddarth)
Kelurnya (bercerainya)kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera. (Arif Mansyur, dkk. 2000)
Klasifikasi :
  1. Dislokasi congenital
Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
  1. Dislokasi patologik
Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi.
  1. Dislokasi traumatic
Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan)
Etiologi :
  1. Tidak diketahui
  2. Faktor predisposisi
  1. akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir.
  2. Trauma akibat kecelakaan.
  3. Trauma akibat pembedahan ortopedi
  4. Terjadi infeksi disekitar sendi.
Manifestasi Klinis
  1. Nyeri
  2. perubahan kontur sendi
  3. perubahan panjang ekstremitas
  4. kehilangan mobilitas normal
  5. perubahan sumbu tulang yang mengalami dislokasi
  6. deformitas
  7. kekakuan
Pemeriksaan diagnostic
  1. foto X-ray
untuk menentukan arah dislokasi dan apakah disertai fraktur.
  1. foto roentgen
Penata laksanaan :
  1. Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi berat.
  2. Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi.
  3. Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar tetap dalam posisi stabil.
  4. beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 3-4X sehari yang berguna untuk mengembalikan kisaran sendi
  5. memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan.
Askep :
  1. Pengkajian
  1. identitas dan keluhan utama
  2. riwayat penyakit lalu
  3. riwayat penyakit sekarang
  4. riwayat masa pertumbuhan
  5. pemeriksaan fisik terutama masalah persendian : nyeri, deformitas, fungsiolesa mis: bahu tidak dapat endorotasi pada dislokasi anterior bahu.
  1. Diagnosa Keperawatan
  • Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan discontinuitas jaringan
  • Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi
  • Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
  • Gangguan bodi image berhubungan dengan deformitas dan perubahan bentuk tubuh.
  1. Intervensi
Dx 1
  • kaji skala nyeri
  • berikan posisi relaks pada Px
  • ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
  • kolaborasi pemberian analgesic
Dx 2
  • kaji tingkat mobilisasi Px
  • berikan latihan ROM
  • anjurkan penggunaan alat Bantu jika diperlukan
Dx. 3
  • Bantu Px mengungkapkan rasa cemas atau takutnya
  • Kaji pengetahuan Px tentangh prosedur yang akan dijalaninya.
  • Berikan informasi yang benar tentang prosedur yang akan dijalani Px
Dx 4
  • kaji konsep diri Px
  • kembangkan BHSP dengan Px
  • Bantu Px mengungkapkan masalahnya
  • Bantu Px mengatasi masalahnya.
  • kaji respon klien terhadap aktifitas
  • kaji TTV setelah melakukan aktifitas
  • mengajarkan gerak aktif pasif
  • monitor tonus otot
Dx. 3
  • kaji pola defekasi
  • jelaskan pentingnya diet tinggi serat
  • ajarkan bowel training
  • rubah posisi sesering mungkin
  • dorong intake cairan peroral ± 6-10 gelas perhari

ASKEP POST ORIF (open reduction and internal fixation )


ASKEP POST ORIF (open reduction and internal fixation )

Latar Belakang
ORIF adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang yang mengalami fraktur. Fungsi ORIF untuk mempertahankan posisi fragmen tulang agar tetap menyatu dan tidak mengalami pergeseran.
Klien akan kesulitan berjalan/bergerak setelah di lakukan tindakan ORIF, maka dari itu diberikan alat bantu untu jalan dan mobilisasi. Penulis akan membahas tentang alat bantu yang digunakan untuk klien post ORIF.

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Ketereampilan Keperawatan Dasar II yang membahas mengenai alat bantu jalan dan mobilisasi post ORIF, baik pengertian, alat yang digunakan, maupun prosedur tindakannya.


A. Pengertian
Alat bantu jalan dan mobilisasi yaitu alat yang di gunakan untuk membantu klien supaya dapat berjalan dan bergerak.

B. Tujuan Tindakan
1. Untuk membantu klien berjalan
2. Untuk membantu klien bergerak
3. Menjaga supaya tidak terjadi fraktur lagi
C. Indikasi
1. Pasien penderita dan pasca stroke
2. Pasien yang menderita kelumpuhan
3. Pasien yang menderita fraktur
D. Kontra indikasi
1. Pasien dengan penurunan kesadaran
2. Pasien dengan fraktur yang parah dan belum ada penyatuan tulang
3. Pasien yang mengalami kelemahan (malaise)


E. Jenis alat yang digunakan
1. Walker
Adalah : Suatu alat yang sangat ringan, mudah dipindahkan setinggi pinggang, dan terbuat dari pipa logam. Mempunyai empat penyangga dan kaki yang kokoh.

2. Tripod
Adalah : memberi songkongan yang terbesar yang digunakan pada kaki yang mengalami sebagian atau keseluruhan paralisis atau hemiplegia (paralisis pada satu sisi). Alat bantu yang memiliki tiga kaki, yang biasa digunakan untuk orang yang kondisinya sudah bagus.

3. Kruk
Adalah : alat bantu jalan yang berbentuk segitiga sama kaki, dalam penggunaannya dihimpitkan di ketiak. Dalam penggunaan kruk apabila naik tangga kaki yang sakit terlebih dahulu, jika turun sebaliknya. Kruk sering digunakan untuk meningkatkan mobilisasi. Penggunaannya dapat temporer, seperti pada setelah kerusakan ligamen dilutut. Kruk dapat digunakan permanen (klien paralisis ekstremitas bawah). Kruk terbuat dari kayu atau logam. Ada dua tipe kruk :

3.1. strand memilki sebuah pegangan tangan dan pembalut logam yang pas memgelilingi lengan bawah, kedua-duanya harus diatur sesuai dengan tinggi klien.

3.2. Kruk Aksila terbuat dari kayu.
Kruk Aksila mempunyai garis permukaan yang seperti bantalan pada bagian atas, dimana berada tepat dibawah aksila. Pegangan tangan berbentuk batang yang dipegang setinggi telapak tgangan untuk menyokong tubuh. Ukuran panjang kruk harus diatur yang sesuai, dan klien harus diajarkan menggunakan kruk mereka dengan aman, mencapai kestabilan gaya berjalan naik turun tangga dan bangkit dari duduk.

4. Kursi Roda
Adalah : alat bantu yang digunakan untuk pasien

5. Kaki palsu
Adalah : alat bantu jalan yang menyerupai kaki yang terbuat dari fiber dan aluminium.
Gambar 5

6.Tongkat
Adalah : alat yang ringan, dapat dipindahkan, setinggi pinggang dan terbuat dari kayu atau logam.

F.Prosedur Tindakan
1.Walker
1.1.Klien memgang pemegang tangan pada batang di bagian atas, melangkah, memindahkan walker lebih lanjut dan melangkah lagi.

2.Tripod
2.1.Tripod diletakan dekat kaki yang fraktur, kemudin kaki yang sehat melangkah dan kaki sakit yang melangkah.

3.Kruk
3.1 Dalam penggunaan kruk apabila naik tangga kaki yang sakit terlebih dahulu melangkah, jika turun kaki yang sehat.

4. Kursi Roda
4.1 Posisi kursi 45 derajat dari tempat tidur, rem terkunci, memindahkan kaki istirahat.

5. Kaki Palsu
5.1 Memasukkan Stockinett pelapis puntung dulu lalu membantu pasien memasukkannya ke dalam socket.
Kemudian pasien harus dilatih mengencangkan menggunakan suspensi kemudian dilatih untuk berjalan dengan menggunakan kaki barunya.
Proses ini memang memakan waktu dan beaya sehingga prosthesis kaki yang baik.

6. Tongkat
6.1.Tongkat ini harus dipakai di sisi tubuh yang terkuat. Untuk sokongan maksimum ketika berjalan, klien menempatkan tongkat berada di depan sejauh 1 sampai 25 cm, mennjaga berat badan pada kedua kaki klien. Kaki yang terlemah bergerak maju dengan tongkat sehingga berat badan dibagi antara tongkat dan kaki yang terkuat. Kaki yang terkuat maju setelah tongkat szehingga kaki terlemah dan berat badan disokong oleh tongkat dan kaki terlemah.


KESIMPULAN

ORIF adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang yang mengalami fraktur. Fungsi ORIF untuk mempertahankan posisi fragmen tulang agar tetap menyatu dan tidak mengalami pergeseran.
Alat bantu jalan dan mobilisasi yaitu alat yang di gunakan untuk membantu klien supaya dapat berjalan dan bergerak.



DAFTAR PUSTAKA

Potter, Patricia A and Perry,Anne Griffin.(2005).Buku Ajar Fundamental Keperawatan (edisi ke4).Jakarta : EGC

Appley,A.G and Louis Solomon.(1995).Terjemahan Ortopedi dan Fraktur Sistem Appley ( edisi ke7).Widya Medika.

Chusid, J.G.(1993).Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional (edisi empat).Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Gerhardt, j. John and Russe, A. Cotto.(1995). International SFTR Method of Measuring and Recording Joint Motion. Stugart : Hans huber Publiser.

Hassenkam ,Marie.(1999). Soft Tissue Injuries. In Atkinson Karen, et.all.Physioterapi in Orthopaedic.Philadelpia : F.A davis Company.

Kisner,Carolyn and Lynn Colby. (1996). Therapeutic Exercise Foundation and Techniques ( third edition). Philadelphia : F.A Davis Company.

Kumar, et. All. (1992). Basic Pathology (fifth edition). Philadelpia :W. B Saunder Company.

Rabu, 12 Oktober 2011

Hiperhidrosis


Hiperhidrosis adalah sekresi (pengeluaran) keringat dalam jumlah yang lebih besar dari yang dibutuhkan untuk mendinginkan tubuh. Biasanya kelebihan keringat tersebut terdapat pada telapak tangan, telapak kaki dan ketiak. Kecemasan, rasa malu serta gangguan aktivitas sehari-hari dapat disebabkan oleh hiperhidrosis.
Penyebab
Penyebab hiperhidrosis adalah sistem regulasi suhu pada tubuh dan kelenjar keringat. Ada dua jenis kelenjar keringat di kulit, yaitu kelenjar apocrine dan kelenjar eccrine. Kelenjar Eccrine, terdapat di sebagian besar tubuh dan membuka langsung ke permukaan kulit. Kelenjar apocrine berkembang di daerah yang dipenuhi dengan folikel rambut, seperti pangkal paha, ketiak dan kulit kepala.
Sistem saraf otonom merangsang kelenjar ini untuk mengeluarkan cairan ke permukaan kulit ketika suhu tubuh naik, yang berfungsi untuk mendinginkan tubuh. Sebagian besar yang terkandung di dalam keringat adalah air dan garam (natrium klorida).
Jenis hiperhidrosis biasanya menentukan penyebabnya:
1. Hiperhidrosis General
Daerah besar dari tubuh dipengaruhi oleh jenis hiperhidrosis. Hiperhidrosis dapat juga merupakan efek samping dari obat yang dikonsumsi oleh tubuh.
2. Hiperhidrosis Fokal
Berkeringat berlebihan di siang hari pada telapak tangan dan telapak kaki atau kadang-kadang pada ketiak biasanya merupakan jenis hiperhidrosis fokal. Biasanya sama pada kedua sisi tubuh (bilateral), misalnya pada kedua telapak tangan.
Jenis ini tidak terkait dengan kondisi yang mendasarinya dan biasanya dimulai sebelum usia 20 tahun. Jenis ini biasanya menurun dalam keluarga, sehingga mungkin melibatkan komponen genetik, tetapipenyebab pastinya masih belum diketahui.
Gejala
Biasanya orang berkeringat ketika mereka melakukan aktivitas fisik, olahraga, stres, gugup atau cemas. Jika berkeringat melebihi normal, maka dapat disebut hiperhidrosis.
Beberapa tanda dan gejala hiperhidrosis, antara lain:
1. Berkeringat berlebihan secara abnormal pada wajah, kepala, kaki, dan ketiak hingga terasa mengganggu.
2. Lengket atau terdapat tetesan-tetesan keringat pada telapak tangan atau telapak kaki.
3. Pakaian seringkali basah oleh karena berkeringat berlebihan.
Berkonsultasilah dengan dokter ketika menjumpai gejala-gejala berikut:
1. Hiperhidrosis biasanya terjadi setidaknya sekali seminggu tanpa alasan yang jelas.
2. Sering berkeringat berlebihan dimalam hari tanpa alasan yang jelas.
3. Mengalami keringat dingin, terutama disertai dengan nyeri dada dan perut.
Kondisi seperti ini biasanya dikaitkan dengan gejala penyakit jantung.
Pengobatan
Perawatan yang biasanya direkomendasikan untuk kondisi hiperhidrosis, antara lain:
1. Obat antikolinergik
Seseorang mungkin diresepkan obat antikolinergik seperti Glycopyrrolate pada kasus hiperhidrosis secara umum. Biasanya, setelah menggunakan obat selama sekitar dua minggu, tanda dan gejala membaik.
Namun, obat ini bisa memiliki berbagai efek samping karena asetilkolin bekerja pada beberapa struktur dalam tubuh, bukan hanya kelenjar keringat. Beberapa tanda dan gejala efek samping dari obat antikolinergik, antara lain:
a. Penglihatan kabur
b. Sembelit
c. Kehilangan selera makan
d. Retensi urin
e. Mulut kering
f. Pusing
2. Antiperspiran
Untuk mencapai hasil terbaik, antiperspiran harus dipakai di malam hari untuk daerah yang paling rentan terhadap keringat. Orang harus mencuci obat di pagi hari untuk mencegah iritasi karena antiperspiran dapat menyebabkan kulit merah, bengkak dan gatal.
3. Botulinum toksin
Suntikan botulinum toksin efektif untuk mengobati hiperhidrosis dengan memblokir saraf yang memicu kelenjar keringat.
4. Iontophoresis
Alat bertenaga baterai akan digunakan dalam prosedur ini saat tubuh pasien direndam di dalam air, kemudian diberikan arus listrik tingkat rendah untuk tangan, kaki, atau ketiak. Kelenjar keringat sementara dapat diblokir pada prosedur ini. Iontophoresis biasanya aman dan dapat dilakukan di rumah.
5. Bedah
Operasi bisa menjadi pilihan dalam beberapa kasus langka. Melepaskan kelenjar keringat di ketiak dapat membantu dalam kasus keringat berlebihan yang hanya terjadi di daerah tersebut. Memotong saraf yang membawa pesan dari saraf simpatis ke kelenjar keringat adalah prosedur yang berbeda. Operasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosedur yang dikenal sebagai endoscopic thoracic sympathectomy.
Sumber: http://www.detikhealth.com/read/2011/08/22/091028/1707954/770/hiperhidrosis-penyakit-kelebihan-keringat

Jumat, 10 Juni 2011

Pelatihan BTCLS (Basic Trauma &Cardiac Life Support) RS. Dustira 2011

IGD Dustira bekerjasama dengan Yayasan Ambulan Gawat Darurat 118 Jakarta akan mengadakan pelatihan BTCLS (Basic Trauma Cardiac Life Support) yang akan dilaksanakan pada :
Tanggal :18-22 Juli 2011
Tempat : RS. Dustira Cimahi
Karena adanya pembatasan jumlah peserta ±35 orang, maka bagi calon peserta agar segera mendaftar sedini mungkin paling lambat tgl.13 Juli 2011 kalau alokasi belum terpenuhi.
Untuk Informasi dan pendaftaran, dapat menghubungi contact person :
a. Sri Maryanti, S.Kep : 0818425929
b. Sugiono : 08172341176
c. Haryono, AMK : 08562000478
d. Edi Supriadi, AMK : 08122445530
e. Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah sakit Tk. II 03.05.01 Dustira, no. telp/fax. (022) 6630932, Email : igddustira@yahoo.com.
Peserta
a. Perawat lulusan DIII
b. Perawat lulusan S1
c. Dosen Keperawatan
biaya : Rp. 2.250.000,-
tiap peserta akan mendapatkan :
1.Seminar kit
2.sertifikat resmi dari YAGD 118 Jakarta dan dari Depkes RI sebagai Pra syarat TKHI
3.Tas
4.kaos
5.modul pelatihan
6. Muatan 2 SKP dari PPNI
Cara Pendaftaran dan Pembayaran bisa langsung menghubungi contact person atau transfer ke nomor :
Transfer : Bank BCA KCP Cimahi
Account : 1391537335
Atas nama : Sri Maryanti

bagi pendaftaran via transfer agar bukti transfer di fax no. (022) 6630932
Sekian dan terima kasih

pelatihan BT&CLS RS.Dustira pelatihan BT&CLS RS.Dustira Instaldik RS. Dustira bekerjasama dengan Yayasan Ambulan Gawa...