Sabtu, 18 Desember 2010

VULNUS MORSUM ( GIGITAN ULAR DAN ANJING )


A.      Pengertian
-          Luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh yang terjadi akibat kekerasan (Mansjoer, 2000)
-          Jejas gigit (Bite Mark) dapat berupa luka lecet tekan berbentuk garis lengkung terputus-putus hematoma tau luka robek dengan tepi rata, luka gigitan umumnya masih baik strukturnya sampai 3 jam pasca trauma, setelah itu dapat beruba bentuk akibat elastisitas kulit (Mansjoer,2000)
-          Vulnus morsum merupakan luka yang tercabik-cabik yang dapat berupa memar yang disebabkan oleh gigitan binatang atau manusia (Morison J,2003)

B.      Etiologi
  1. Gigitan ular berbisa dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a.       Famili Elipadae, terdiri dari :
·         Najabungarus (King Cobra), berwarna coklat hijau dan terdapat di  Sumatra dan Jawa
·         Najatripudrat sputatrix (Cobra Hitam, ular sendok) panjangnya sekitar 1,5 meter terdapat di Sumatra dan di Jawa
·         Najabungarus Candida (Ular sendok berkaca mata) sangat berbahaya dan terdapat di India
b.      Famili Viperidae, terdiri dari :
·        Ancistrodon rodostom (Ular tanah)
·        Lacheis Graninius (Ular hijau pohon)
·        Micrurus Fulvius (Ular batu koral)
c.       Famili Hydrophydae

  1. Gigitan Anjing, virus rabies yang bersifat neurotropik dan menyebabkan ensefalitis virus serta infeksi melalui saliva dan gigitan anjing, kucing, rubah, srigala, kelelawar yang menderita rabies

C.        Manifestasi Klinik
1.       Gigitan Ular
     Keluhan dan gejala tergantung pada jenis ular :
-          Pada gigitan ular family elapidae keluhan dan gejala berupa nyeri, edema, pitosis, sengau, kelumpuhan lidah dan faring, mual, muntah, salivasi, hematuri, melena, kelumpuhan leher dan kelumpuhan  anggota gerak serta pernafasan
-          Gigitan ular family viperdae, keluhan dan gejalanya berupa nyeri, ekimosis, gagal ginjal akut, sputum bercampur darah
-          Gigitan ular hydrophydae, keluhan dan gejala berupa nyeri, kekakuan otot, nyeri pada otot sampai pada 1 jam setelah gigitan, kelumpuhan otot, oftalmoplegi, disfagia, mioglobinuri (3 sampai 6 jam setelah gigitan)
Klasifikasi keracunan akibat gigitan ular berbisa :
-          Derajat 0
Dengan tanda-tanda tidak keracunan, hanya ada bekas taring dan gigitan ular, nyeri minimal dan terdapat edema dan eritema kurang dari 1 inci dalam 12 jam, pada umumnya gejala sistemik yang lain tidak ada
-          Derajat 1
Terjadi keracunan minimal, terdapat bekas taring dan gigitan, terasa sangat nyeri dan edema serta eritema seluas 1-5 inci dalam 12 jam, tidak ada gejala sistemik
-          Derajat 2
Terjadi keracunan tingkat sedang terdapat bekas taring dan gigitan, terasa sangat nyeri dan edema serta eritemayang terjadi meluas antara 6-12 inci dalam 12 jam. Kadang- kadang dijumpai gejala sistemik seperti mual, gejalaneurotoksi, syok, pembesaran kelenjar getah beningregional
-          Derajat 3
Terdapat gejala keracunan yang hebat, bekas taring dan gigitan, terasa sangat nyeri, edema dan eritema yang terjadi luasnya lebih dari 12 inci dalam 12 jam. Juga terdapat gejala sistemik seperti hipotensi, petekhiae, dan ekimosis serta syok
-          Derajat 4
Gejala keracunan sangat berat, terdapat bekas taring dan gigitan yang multiple, terdapat edema dan lokal pada bagian distal ekstremitas dan gejala sistemik berupa gagal ginjal, koma sputum berdarah.

2.       Gigitan Anjing
Terdiri dari  beberapa stadium :                                          
-          Stadium Prodromal
Pada stadium ini gejalanya tidak spesifik, nyeri kepala, demam yang kemudian diikuti dengan anoreksia, mual muntah, malaise, kulit hipersensitif, serak dan pembesaran kelenjar limfe regional
-          Masa Perangsangan Akut (Agitasi), stadium ini ditandai adanya kecemasan, berkeringat, gelisah oleh suara atau cahaya terang, salvias, insomnia, nervouseness, spasme otot kerongkongan, tercekik, sukar menelan cairan atau ludah, hidrofobia, kejang-kejang, kaku
-          Masa Kelumpuhan, terjadi akibat kerusakan sel saraf, penderita menjadi kebingungan, sering kejang-kejang, inkontinensiaurin, stupor, koma, kelumpuhan otot-otot dan kematian.

D.   Komplikasi
-       Gigitan ular, gejala sistemik berupa gagal ginnjal, syok dan koma dan bisa menyebabkan kematian
-       Gigitan anjing, kerusakan sel syaraf, kelumpuhan otot-otot serta kematian


E.    Pemeriksaan Diagnostik
1.         Gigitan ular
-       Pada pemeriksaan darah dapat dijumpai hipoprototrombinemia, trombositopenia, hipofibrinogenemia dan anemia
-       Pada foto rontgen thoraks dapat dijumpai emboli paru dan atau edema paru
2.   Gigitan anjing
-     Diagnosis pada manusia ditegakkan dengan tes antibodi netraslisasi rabies yang positif dan
-     Diagnosis pada hewan ditegakkan dengan pemeriksaan otak secara otopsi. Pada otopsi otak akan ditemukan badan inklusivirus (Negri’s bodies) didalam sel saraf

F.    Penatalaksanan
a.       Gigitan ular
Cegah penyebaran bisa dari daerah gigitan
-          Pasang tourniquet didaerah proksimal daerah gigitan atau pembengkakan untuk membendung sebagian aliran limfe dan vena
-          Letakkan daerah gigitan lebih rendah dari tubuh
-          Boleh diberikan kompres es local
-          Usahakan penderita setenang mungkin, bisa diberikan petidine 50 mg im untuk menghilangkan nyeri

Perawatan luka
-          Hindari kontak luka dengan larutan asam KmnO4, yodium, atau benda panas
-          Zat anestetik disuntikkan disekitar luka, jangan kedalam luka bila perlu pengeluaran dibantu dengan penghisapan melalui breast pump
1.   Bila mungkin berikan suntikkan anti bisa (antivenin) dengan dosis 4-5 ampul dewasa, anak-anak dengan dosis yang lebih besar  (2-3 kali)
2.    Perbaikan sirkulasi
-       Kopi pahit pekat
-       Kafein Na benzoate 0,5 g/iv
-       Bila perlu diberikan vasokonstriktor, misal epedrin 10-25 mg dalam 500-100 ml cairan/drip
3.       Obat lain
-       ATS 1500-3000 ui
-       Toksoid tetanus 1ml
-       Antibiotik

b.      Gigitan  anjing
1.     Luka dibersihkan dengan sabun dan air berulang-ulang
2.     Irigasi dengan larutan betadine, bila perlu lakukan debridement
3.     Jangan melakukan anestesi infiltrasi local tetapi anestesi dengan cara blok atau umum
4.     Balut luka secara longgar dan observasi luka 2 kali sehari
5.     Berikan ATS atau HTIG
6.     Bila luka gigitan berat berikan suntikkan infiltrasi serum anti rabies disekitar luka
PATOFLOW

Etiologi vulnus morsum    ( gigitan manusia, binatang, dll )

Traumatik jaringan




Kerusakan kulit
Rusaknya barier tubuh
Terpapar dengan lingkungan
Resti infeksi
Terputusnya kontinuitas jaringan
Kerusakan syaraf perifer
Menstimulasi pengeluaran neurotransmitter (prostaglandin, histamine, bradikinin, serotonin)
Serabut eferen
Medula spinalis
Korteks serebri
Serabut aferen



Perdarahan berlebih
Perpindahan cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
Keluarnya cairan tubuh (ketidakseimbangan)
Kekurangan volume cairan
Resti syok hipovolemik



Stress
Ansietas
Gangguan pola istirahat dan tidur

Nyeri
Kemempuan ambang batas tubuh tidak menahan
Syok neurogenik


Aktifitas motorik terbatas
Kekuatan otot menurun
Gangguan mobilisasi fisik  



         Defisit perawatan diri











Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Kedaruratan

A.        Pengkajian
1.                 Airway
·         Tidak adanya sputum atau secret
·         Tidak adanya lender dan darah
·         Tidak adanya benda asing pada saluran pernafasan
2.                 Breathing
·           Tidak adanya sesak nafas ataupun tidak menggunakan nafas tambahan, seperti retraksi dan pernafasan cuping hidung serta apneu
·           Frekuensi nafas dalam batas normal
·           Irama teratur tidak dalam maupun dangkal
·           Nafas tidak berbunyi dan suara nafas vesicular tidak wheezing dan ronchi
·           Reflek batuk ada
·           AGD dalam batas normal (PO2 35-45 mmhg dan PCO2 80-100 mmhg)
3.                 Circulation
·           Nadi menurun dan teratur
·           Tekanan menurun
·           Distensi vena jugularis tidak kiri dan kanan tidak ada
·           Crt dalam batas normal
·           Warna kulit kemerahan dan edema
·           Sianosis
·           Sirkulasi jantung (irama jantung teratur, bunyi jantung jantung normal S1dan S2, nyeri dada tidak ada)
4.    Disability
-          Terjadi penurunan kesadaran (GCS) pada  pada daerah ekstremitas
-          Drugs, pemberian antivenin (anti bisa), analgetik (petidine)
5.    Exposure
·           Adanya edema
·           Adanya kemerahan
·           Kekakuan otot
6.    Fluid
·           Output, nausea vomiting, anoreksia dan , berkeringat.
7.    Good Vital
·           Terjadi penurunan pada tekanan darah
·           Pada nadi terjadi penurunan
·           Pernafasan dalam batas normal
·           Suhu dalam batas normal
8.    Head to-toe
·         Kepala :
Bentuk simetris, distribusi rambut merata, kebersihan rambut.
1.     Mata : bentuk simetris, tidak anemis,pupil isokor
2.     Hidung : Bentuk simetris
3.     Telinga : bentuk simetris kiri dan kanan
4.     Bibir : Bentuk simetris
·         Leher :
Tidak ada pembesaran vena jugularis dan pembesaran kelenjar getah bening
·         Dada :
Paru-paru : frekuensi > 24x/mnt, irama teratur
·         Jantung :
Bunyi  jantung : normal S1 dan S2, HR menurun
·         Abdomen :
1.       Bentuk : simetris
2.       Bising usus dalam batas normal (6-10x/mnt)
3.       Ada mual dan muntah
·         Ekstremitas :
1.       Akral dingin
2.       Edema
3.       Kekakuan otot
4.       Nyeri
5.       Kekuatan otot menurun

B.    Diagnosa keperawatan
1.       Gangguan perfusi jaringan perifer b.d adanya edema
2.       Kekurangan volume cairan b.d anoreksia, nausea vomiting dan intake tidak adekuat
3.        Nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan kulit

C.    Intervensi Keperawatan

Diagnosa 1
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan selama perawatan , gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi dengan kriteria :
-       Nadi teratur (60-100 x/menit)
-       TD dalam batas normal
-       Tidak ada edema

No
Intervensi
Rasional
1
Obsevasi warna, sensasi, gerakan nadi perifer melalui dopler dan pengisian kapiler pada ekstremitas luka, bandingakan dengan ekstremitas yang tidak sakit
Pembentukan odema dapat secara cepat menekan pembuluh darah sehingga mempengaruhi sirkulasi

2
Tinggikan eksteremitas yang sakit dengan tepat
Meningkatkan sirkulasi sistemik atau aliran balik vena dan dapat menurunkan edema
3
Ukur TD  pada ekstremitas yang mengalami luka, lepaskan manset TD setelah mendapatkan hasil
Dapat mengetahui secara berkesinambungan TD dan menentukan intervensi yang tepat, dengan dibiarkan manset pada tempatnya dapat meningkatkan pembentukan edema
4
Dorong latihan gerak aktif pada bagian tubuh yang tidak sakit
Meningkatkan sirkulasi local dan sistemik
5
Observasi nadi secara tertur
Disritmia jantung dapat terjadi akibat perpindahan elektrolit

Diagnosa 2
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan selama perawatan kebutuhan cairan terpenuhi dengan kriteria :
-          TTV dalam batas normal
-          Menunjukan perbaikan keseimbangan cairan
-          Haluaran urine normal
No
Intervensi
Rasional
1
Awasi tanda vital, CVP, perhatikan pengisian kapiler dan kekuatan nadi perifer
Memberi pedoman untuk penggantian cairan dan mengkaji respon kardiovaskuler
2
Awasi haluaran urine dan observasi warna urine
Penggantian cairan harus difiltrasi untuk meyakinkan rata-rata atau balance haluaran urine dan pemasukan
3
Observasi mual muntah  sesuai dengan frekuensinya
Untuk mengobservasi output cairan dan menyesuaikan intake cairan
4
Berikan penggantian cairan IV yang dihitung, elektrolit, plasma dan albumin
Resusitasi cairan menggantikan kehilangan cairan elektrolit dan membantu pencegahan komplikasi
5
Observasi pemeriksaan laboratorium ( Hb, Ht, elektrolit dan natrium urine )
Mengidentifikasi kehilangan darah atau kerusakan sel darah merah dan kebutuhan penggantian cairan dan elektrolit

Diagnosa 3
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keprawtan, nyeri berkurang dengan kriteria :
-       Ekspresi wajah atau postur tubuh rileks
-       Dapat beristirahat dengan tepat
-       Nyeri berkurang/ terkontrol dengan TTV dalam keasaan normal.
No
Intervensi
Rasional
1
Tutup luka sesegera mungkin
Suhu dan gerakan udara dapat menyebabbkan nyeri pada pemajanan ujung saraf
2
Observasi keluhan nyeri, perhatikan lokasi atau karakter, intensitas
Perubahan lokasi/ karakter/ intersitas nyeri dapat mengidentifikasi terjadinya komplikasi
3
Jelaskan prosedur/ berikan informasi setelah debridement luka
Dukungan empati dapat membantu mengurangi nyeri atau meningkatkan relaksasi
4
Dorong ekspresi perasaan teentang nyeri
Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan mekanisme koping
5
Dorong penggunaan tekhnik manajemen stress dan tekhnik relaksasi
Memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan relaksasi






















DAFTAR PUSTAKA


Aziz (2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.Salemba Medika : Jakarta

Brunner and suddarth. 2002. Buku ajar keperawatan medikal bedah. Edisi 8. Volume 1. Jakarta : EGC

................................ 2002. Buku ajar keperawatan medikal bedah. Edisi 8. Volume 2. Jakarta : EGC

................................ 2002. Buku ajar keperawatan medikal bedah. Edisi 8. Volume 3. Jakarta : EGC

Cecily. L. Betz (2002). Buku Saku Keperawatan pediatrik. Edisi 3. Jakarta : ECG

Corwin. J. Elizabeth (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

Doenges. Marilynn E. 2000. Rencana asuhan keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta : EGC

Donna L Wong (2003). Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. Jakarta : EGC

Gallo and hudak. 1997. Keperawatan kritis pendekatan holistik jilid 1. Jakarta : EGC

......................... 1997. Keperawatan kritis pendekatan holistik jilid 1. Jakarta : EGC

Halloway. Brenda. 2003. Rujukan Cepat Keperawatan Klinis. EGC : Jakarta

EGMansjoer. Arif. 2000. Kapita selekta kedokteran. Edisi 3. Jakarta : EGC

Nelson (1999). Ilmu Kesehatan Anak.Edisi 14. Jakarta : EGC

Ngastiyah (2005). Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC

Oman. Kathleen.2008. Panduan Keperawatan Emergensi. Jakarta : EGC

Purwandianto.Agus. 1979. Kedaruratan Medik Pedoman Penatalaksanaan praktis edisi 3. PT Bina Rupa Aksara: Jakarta

Sumiardi. 1995. Bedah Minor. Hipocrates: Jakarta

Sylvia. A. 1997. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC
Tambunan. 1990. Buku panduan penatalaksanaan gawat darurat. Fakultas kedokteran universitas indonesia. Jakarta
Tantowo. 2007. Keperawatan medikal bedah, gangguan sistem pernafasan. Sagung seto. Jakarta

Tim Training dan Tim Pengkaji Medis Internasional SOS. 2008. PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat) Level 2. International SOS Training Departement: Jakarta











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar